Jumat, 26 September 2008

Mencintai Apa Adanya..

Hari ini saya dikirimi email dari teman saya yang merupakan kisah nyata. Yang mengisahkan pak Suyatno seorang manusia yang sudah senja umurnya mearawat istrinya yang sudah lumpuh hampir 25 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak dari usia pernikahan yang mencapai 32 tahun.

Cobaan ini bermula ketika istri pak Suyatno selesai melahirkan anak yang ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakan lagi.

Setiap hari pak Suyatno memandikan istrinya, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakan istrinya di depan TV agar istrinya tidak kesepian.

Walaupun istrinya tidak dapat berbicara tetapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dapat pulang dan menyuapi istrinya, sorenya ia pulang untuk memandikan, menggantikan pakaian dan selepas magrib dia menamani istrinya nonton TV sambil menceritakan kejadian yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tetapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinias ini sudah dijalani oleh pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar ia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang, anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari keempat anak berkumpul di rumah orang tuanya sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dirawat oleh dirinya, yang diinginkannya hanya satu yaitu anak-anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata “ pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak….. bahkan bapak tidak mengijinkan kami menjada ibu”, dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “ sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”. Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.

Anak-anakku…. Jikalau pernikahan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…tetapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejak kerongkongannya tersekat,… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini ?. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaan sekarang ? kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit ?.” Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno…dengan pilu ditatapnya mata suaminya yang sangat dicintainya itu…

Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa… disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum hawa tidak sanggup manahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.

“Jika manusia didunia ini mengganggungkan cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran dan perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak-anak yang lucu-lucu… sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya… apalagi dia sakit.


Senin, 22 September 2008

GORESAN PADA MOBIL

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

(dikutip dari milis EMBA, dan debritto)


BERPELUKAN MESRA DENGAN KESEDIHAN

Kalau boleh memilih, ada banyak sekali manusia yang hanya mau kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Itu juga terjadi dalam kehidupan saya dalam waktu yang lama. Saya pernah kehilangan seorang ayah yang sudah sampai di tingkat unconditional love.

Seorang sahabat - sekaligus pemilik perusahaan - meninggal ketika kami sudah bisa berkomunikasi dari hati ke hati. Ibu mertua yang tidak pernah memarahi saya, bahkan selalu membela saya ketika ada konflik dengan isteri - padahal waktu pacaran dengan puteri beliau, saya tergolong anak nakal - meninggal ketika kami sekeluarga belum sempat membahagiakannya secara cukup. Dan ada banyak lagi kejadian hidup yang pernah membawa saya pada sungai kesedihan yang panjang dan dalam. Mungkin akan ada lagi kejadian-kejadian serupa di masa yang akan datang. Sayangnya, sebagaimana alam yang mengenal siklus, kehidupan manusiapun mengenal siklus. Kesedihan dan kebahagiaan adalah salah satu saja dari banyak siklus yang harus kita lalui.

Seorang sahabat saya ditimpa kesedihan yang lama dan panjang, ditinggal suaminya beristrikan orang lain. Seorang pembaca kolom ini mengirim e-mail ke saya, kalau dia dibuat tersiksa oleh kekasihnya. Beberapa pengunjung yang rajin mengunjungi web site saya, tidak sedikit mengirim berita kesedihan, dan meminta jalan keluar segera. Digabung menjadi satu, tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan. Diundang maupun tidak, ia akan senantiasa datang. Dalam banyak kejadian bahkan terbukti, semakin ia dibenci dan ditakuti, semakin ia senang dan rajin berkunjung ke diri kita. Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan.

Kahlil Gibran pernah menulis cantik tentang hakikat kesenangan dan kesedihan. Menurut penulis sufi ini, kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya. Dan, tawa serta air mata datang dari sumber air yang sama. Lebih dari itu, semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa, maka semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan. Bercermin dari goresan indah Kahlil Gibran ini, rupanya kesedihan dan kebahagiaan adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian.

Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia manapun, tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah.
Ia seperti dua sayap dari seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya ''burung'' kehidupan. Dalam pengandaian yang lain. Coba perhatikan lambang-lambang tawa dan bahagia. Piala kemenangan sebagai contoh. Bukankah ia melalui proses pembakaran dan pembentukan yang amat menyakitkan ?. Seruling penghibur telinga sebagai contoh lain. Bukankah ia dibuat dari bambu yang rela dirinya dipotong-potong ? Anak yang berhasil menjadi kebanggaan orang tua. Bukankah ia telah mengkonsumsi energi kesabaran yang demikian lama dan melelahkan ? Dari semua contoh ini, tawa ternyata semuanya dibangun di atas pundi-pundi air mata.

Demikian juga sebaliknya. Kahlil Gibran bahkan sampai dalam pemahaman yang lebih dalam. Tanpa kesedihan, jiwa yang manapun tidak akan memiliki daya tampung yang besar terhadap kebahagiaan. Dalam pengandaian yang lain, manusia memang sedang diikat kakinya di tengah-tengah sebuah timbangan. Di sebelah kanan ada kebahagiaan, dan di sebelah kiri ada kesedihan. Semakin keras kaki sebelah kanan disentakkan, semakin besar tarikan timbangan di sebelah kiri. Ini yang terjadi dalam kehidupan banyak orang yang ''serakah'' dengan kebahagiaan. Semua orang - termasuk saya kalau mau jujur - memang ingin berat di sebelah kanan. Sayangnya, ia bertentangan dengan hakekat dasar kesenangan dan kesedihan. Dalam bahasa Kahlil Gibran, ketika kita bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan. Persoalannya kemudian, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk berpelukan mesra dengan kesedihan ? Nah, inilah sebuah kualitas pribadi yang dimiliki oleh teramat sedikit orang. Untuk menerima kebahagiaan, kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan.

Akan tetapi, untuk berpelukan mesra dengan kesedihan, diperlukan kearifan dan kedewasaan yang mengagumkan. Saya pernah bertemu dengan segelintir manusia yang sudah sampai pada kualitas kearifan dan kedewasaan terakhir. Dari seorang guru meditasi, seorang pendeta Buda, beberapa kiai sampai dengan seorang pastur. Entah benar entah tidak kesimpulan saya ini, yang membawa mereka pada kualitas yang mengagumkan ini justru kesedihan. Dari orang-orang terakhir saya belajar, kesedihan telah menjadi tangga kedewasaan, kearifan dan kedamaian yang amat mengagumkan. Sama mengagumkannya dengan akar pohon. Ia diinjak, tertanam di dalam tanah, tidak kelihatan, mencari makan buat pihak lain, namun nasib buah, bunga, daun dan batang bergantung pada ketekunan sang akar. Bukankah kesedihan juga demikian ?

Membawa manusia ke tangga yang amat tinggi, namun pada saat yang sama dibenci dan ditakuti. Ada memang orang yang menyebut bahwa kesenangan lebih berharga dari kebahagiaan. Ada juga yang mengatakan bahwa kesedihan lebih mulya dari kebahagiaan. Dan Kahlil Gibran menyimpulkan bahwa keduanya tidak terpisahkan. Semua kesimpulan ini sah-sah saja. Dan saya sedang belajar mendidik diri untuk memeluk kesedihan sama mesranya dengan memeluk kebahagiaan. Doakan saja agar saya berhasil melakukannya.

Oleh : Gede Prama


RENCANA TUHAN PASTI INDAH

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; " anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah;
"Allah, apa yang Engkau lakukan? "

Ia menjawab:
" Aku sedang menyulam kehidupanmu."
Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."


From: Dida Nurhaida

sumber: Motivasi Net

KEBAHAGIAAN SEBAGAI PILIHAN

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.

Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah
sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuktos.

Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.

Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."

Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif.

"The most proactive thing we can do is to 'be happy'," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku '7 Habits'.(SM)

sumber: Motivasi Net

Kamis, 24 Juli 2008

SUKSES !!!... INGINKAH ANDA SUKSES ...!!!

Bagi saya sukses merupakan keberhasilan kita dalam melaksanakan suatu aktifitas. Pada saat pagi hari kita bangun dari tempat tidur… kita sukses, sukses dari kemampuan kita untuk bangun. Pada saat kita berjalan ke kamar mandi, gosok gigi dan cuci muka… maka kita juga sudah sukses. Jadi dalam satu hari kita bisa sukses berkali-kali .

Sementara untuk konteks dalam menjalani profesionlisme/kerja, konteks keberhasilan juga tidak berbeda. Bagi saya kesuksesan dalam satu hari bisa beberapa kali, ketika saya berhasil mengerjakan suatu pekerjaan, maka saya sukses.

Dalam prakteknya, seringkali team kita terbentur dengan pengalaman yang masih kurang, sehingga ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Namun demikian, 3 peraturan berikut ini mungkin bisa menjadi panduan dalam melaksanakan berbagai aktifitas dalam kehidupan sehari-hari :

1. Kerjakanlah apa yang bisa anda kerjakan, jangan pernah mengerjakan apa yang tidak bisa anda kerjakan. Bila dipaksakan, maka akan stress berat.
2. Belajarlah terhadap apa yang belum bisa anda kerjakan.
3. Kerjakanlah apa yang sudah anda pelajari (point 2).

Seringkali, seorang atasan menanyakan bisa tidak yah anggota team saya bekerja dengan baik, ini memberikan indikasi bahwa teamnya adalah terdiri dari tenaga-tenaga yang sudah pada posisi on. Untuk saat ini, ketersediaan tenaga professional yang betul-betul siap pakai dengan pengalaman yang banyak adalah sangat susah. Banyak tenaga direkrut dari posisi yang lebih rendah dan ditempatkan di posisi yang lebih baik di perusahaan barunya. Untuk kasus seperti ini, seharusnya seorang bos bertanya Bagaimana team saya dapat bekerja dengan lebih baik. Bukan lagi Bisakah team saya bekerja dengan baik, tetapi Bagaimana.

Banyak atasan yang tidak dapat mengeksplorasi kemampuan bawahannya !!! mereka sibuk dengan lingkarannya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana cara mengeksplorasi bawahannya agar lebih berproduktivitas. Memang, kesuksesan adalah tanggung-jawab masing-masing individu, namun sebagai atasan yang baik, tentu ingin memiliki team work yang excellent, dan hal ini bisa diperoleh apabila atasan dapat mengeksplor bawahan dengan maksimal dan memanfaatkan mereka secara maksimal pula.

Kegagalan seorang atasan (saya tidak mau menyebut pimpinan) adalah terletak pada ketidakmampuannya dalam mengeksplor bawahan. Mereka (para atasan) merasa memiliki dunia sendiri “dunia superior” bahwa mereka lebih hebat, lebih pintar dan sekaligus lebih bodoh karena tidak memberdayakan bawahan mereka yang siap tempur untuk melaksanakan tugas-tugas yang ada di bahu mereka.

Pada hakekatnya, manusia akan merasa sangat senang apabila mereka merasa berguna dan dipergunakan dalam kehidupannya.

Salam Luar Biasa…!

Hendra Sugianto

SEORANG PEMIMPIN ADALAH SEORANG SENIMAN...

Pada suatu hari, seorang seniman pemahat melewati sebuah rumah tidak jauh dari studionya yang kebetulan sedang menebang sebuah pohon besar. Sang seniman itu menghampirinya, dan menyampaikan kehendaknya untuk memiliki gelondongan kayu besar itu. Sang pemiliki sangat senang karena merasa akan dibantu oleh sang seniman untuk membersihkannya. Maka dengan lantang sang pemilik rumah itu menjawab, “ silakaan, itu hanya tunggul kayu yang tidak akan berguna bagi saya.” Betapa senangnya hati seniman tersebut mendengar kata-kata pemilik rumah itu. Dengan semangat yang bergebu-gebu, sang seniman menarik dan membawa pulang tunggul kayu tersebut ke studionya.

Kayu tersebut diletakan di tengah ruangan studio, seniman tersebut mengelilinginya berulang kali, seperti sedang menyelidiki sesuatu yang tertanam di dalam tunggul kayu tersebut. Dengan tenang, seniman tersebut mengambil perlengkapannya dan segera ia bekerja untuk mengeluarkan sesuatu yang terkurang di dalam tunggul kayu tersebut. Dengan sepenuh jiwa dan tenaga ia mengerjakannya, hingga kelelahan dan tertidur di samping hasil kerja kerasnya.

Keesokan haranya, sang “pemilik” tunggul kayu yang telah memberikan tunggul tersebut ke sang seniman mampir ke studio seniman tersebut. Ia disambut dengan ramah oleh sang seniman untuk berkeliling studionya. Setelah beberapa saat, matanya tertuju ke sebuah karya seni yang luar biasa “SEEKOR RAJAWALI” yang begitu perkasa. Dengan segera ia menghampirinya dan memegangnya !. “Berapa engkau akan menjual RAJAWALI mu ini ?”, tanyanya kepada seniman tersebut. Dengan senyuman yang penuh kewibawaan ia menjawab,“Saya belum memberikan harga atas RAJAWALI tersebut, karena baru selesai saya membantu ia keluar dari keterperangkapan dia selama ini”. Dengan tidak sabar, sang “pemilik” tunggul tersebut menjawab, “Bagaiaman kalau saya bayar 10 juta ?”. “Karena engakau begitu menginginkannya, baiklah. Silakan engkau ambil RAJAWALI tersebut seharga yang engkau sebutkan”, kata seniman tersebut. Dengan penuh kebanggaan ia membawa pulang RAJAWALI yang disukainya. Sang seniman hanya tersenyum. Tunggul Kayu ? … atau RAJAWALI yang berharga 10 juta ? tanya sang seniman dalam hati !!!.

Apa yang bisa kita petik dari cerita di atas ?

Sesungguhnya di dalam diri setiap manusia ada RAJAWALI, yang terperangkap dan tunggu untuk dikeluarkan. Tugas seorang pimpinan harus bisa melihat seperti seniman pemahat, harus bisa melihat ke dalam diri bawahanya melalui PEMBERDAYAAN yang maksimal.

Sudahkah Anda mengeluarkan RAJAWALI yang terpendam di dalam diri bawahan Anda ? kalau belum ! keluarkanlah sekarang ! Pahatlah bawahan anda ! Bantulah mereka untuk mengeluarkan RAJAWALI yang terperangkap.


Sukses…

Hendra Sugianto

APA ARTI SEBUAH KEPERCAYAAN ...?

Apasih arti sebuah kepercayaan bagi Anda ? apakah Anda termasuk orang yang bisa diberi kepercayaan ? dan bagaimana Anda mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan ? kepercayaan yang diberikan oleh seorang sahabat, kolega kerja, atasan atau bahkan bawahan ! Apakah ada perbedaannya bagi Anda siapa yang memberi kepercayaan itu ? tentu jawabannya ada berbagai macam, mungkin ada yang akan memegang kukuh, apabila kepercayaan itu diberikan oleh atasan dalam menyelesaian suatu persoalan dan sebaliknya, apabila kepercayaan itu datang dari bawahan cendrung agak diremehkan. Apakah Anda termasuk orang yang saya sebutkan ? Mudah-mudahan tidak. Kepercayaan yang diberikan oleh siapapun kepada kita haruslah betul-betul kita jaga dan buktikan bahwa kita memang pantas untuk diberi kepercayaan. Bila kita membuka kamus bahasa Inggris, maka akan kita lihat bahwa percaya itu berarti kata Benda dan kata Kerja. Bila, dilihat sebagai kata benda, tentu kepercayan itu tidak perlu diperjuangkan atau melakukan sesuatu. Tetapi bila dilihat sebagai kata kerja, maka kepercayaan merupakan suatu hal yang harus diperjuangkan baik bagi yang memberi kepercayaan maupun yang menerima kepercayaan. Kepercayaan merupakan bentuk motivasi tertinggi, karena di dalam kepercayaan, seseorang memberikan keyakinan bahwa orang yang diberi kepercayaan dapat melakukannya dengan baik. Baik dari segi integritas maupun ketrampilan atau pengetahuan dalam menyelesaikan kepercayaan yang diberikan. Pernahkah Anda membayangkan kalau bekerja di bawah seseorang yang tidak mempercayai Anda ? baik dari segi kompetensi ataupun moralitas Anda ? Tentu sangat menjengkelkan kalau mendapat atasan seperti ini. Namun tidak tutup kemungkinan, atasan seperti ini banyak dijumpai. Apakah Anda termasuk orang yang tidak bisa memberi kepercayaan kepada jajaran Anda ?
Orang yang tidak dapat memberikan kepercayaan kepada orang lain, membuktikan bahwa sesungguhnya dirinya tidak layak untuk dipercaya !, Manusia seringkali melihat diri orang lain seperti dirinya, seseorang yang bijaksana, tentu akan memperlakukan orang lain dengan bijaksana pula seperti memperlakukan dirinya. Apabila anda termasuk atasan yang sulit untuk memberikan kepercayaan kepada bawahan anda, mulailah dari sekarang. Bahwa, bawahan anda adalah sosok-sosok manusia luar biasa yang layak untuk diberikan kepercayaan. Rubahlah cara pandang anda, maka dunia anda akan berbeda.

Rabu, 25 Juni 2008

Bagaimanakah Organisasi Yang Baik

?...

By, Hendra Sugianto

Sudahkah kita mengenal dengan baik 4 kecerdasan yang dikaruniahi oleh Tuhan kepada kita ? Sudahkah kita kelola secara baik atas 4 kecerdasan tersebut ?

Jawabannya tentu berbagai ragam, mungkin ada yang sudah mengenalnya dengan baik, tetapi belum dikelola secara maksimal. Atau mungkin juga ada yang belum mengenalnya, sehingga tidak dapat mengelolanya secara maksimal.

4 kecerdasan yang saya maksud adalah 1. kecerdasarn fisik (PQ), 2. kecerdasan mental (IQ), 3. kecerdasan emosional (EQ) dan 4. kecerdasan spiritual (SQ).

PQ (Physical Quotient) merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita, berbagai aktifitas dalam tubuh kita berjalan dengan sendirinya tanpa perintah secara sadar dari kita. Antara lain system kerja saraf, peredaran darah dan masih banyak lagi.

IQ (Intelligent Quotient) merupakan kecerdasan kita dalam melakukan analisis, berpikir dan menemukan berbagai hubungan sebab akibat dalam hidup kita.

EQ (Emotional Quotient) merupakan kecerdasan emosional kita dalam mengenai diri kita, kepekaan sosial dan nilai empati diri kita.

SQ (Spiritual Quotient) merupakan kecerdasaran spiritual, SQ merupakan pusat dan pembimbing dari PQ, IQ dan EQ. Seperti ada tertulis dalam Amsal 20:27 bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.

Bayangkan !!! bila 4 kecerdasan yang dikaruniahi oleh Tuhan dikelola secara maksimal bukankah akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa ?... Bukankah itu merupakan bagian-bagian yang diperlukan dalam suatu management yang luar biasa ?...

Bagaimana dengan suatu organisasi ?... Pada prinsipnya, 4 kecerdasan tersebut juga mutlak diperlukan dalam suatu organisasi, apapun bentuk organisasinya. Penjabarannya adalah sebagai berikut !.

PQ merupakan system yang mutlak diperlukan dalam suatu organisasi, bayangkanlah bagaimana organisasi bisa berjalan dengan baik kalau suatu organisasi tidak memiliki system ? Bagaimana menerapkan disiplin karyawanya ? bagaimana system pelaporannya ? tentu akan menghadapi berbagai persoalan yang rumit, kalau perusahaan tidak memiliki system.

IQ merupakan kompas organisasi, bagaimana suatu organisasi bila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki visi yang jelas ? kemana arah organisasi akan dibawah ? bagaimana teamworknya akan terbentuk apabila tidak adanya visi yang jelas ? tentu efisiensi dan efektivitas kerja tidak akan tercapai dengan tidak adanya visi ini.

EQ merupakan semangat kerja, organisasi yang memiliki kegairahan yang tinggi sudah pasti akan menghasilkan produk-produk yang efisien, karena dengan semangat/kegairahan ini produktivitas akan meningkat. Namun sebaliknya, pernahkah kita melihat produktivitas yang tinggi dari orang/perusahaan yang memiliki motivasi/gairah kerja rendah ?? sepertinya kita hanya menulis di atas air, sesuatu yang tak mungkin.

SQ bagaimanakah integritas suatu organisasi apabila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki moral ? apakah orang seperti ini akan memiliki integritas yang baik ? bagaimana reaksi karyawan apabila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki nurani, tetapi hanya ego yang berbicara ? jawaban sudah jelas, bahwa tanpa integritas, maka organisasi tidak akan dapat berproduktivitas secara maksimal.

Seandainya !!.. kita semua mau bercermin dan melihat diri kita sebagai manusia yang utuh, maka kita sudah melihat bagian-bagian yang diperlukan dalam suatu organisasi/perusahaan.

Apakah mata akan berkata kepada kaki bahwa dirinya yang paling penting ? atau jantung akan berkata kepada hati bahwa dirinya yang paling hebat ? tentu tidak. Karena bagian-bagian tubuh kita saling melengkapi, sehingga tercipta suatu sinergisitas yang luar biasa.

Kapankah Waktu Yang Tepat ?...

Mengutip kata-kata tajam yang diucapkan oleh John Greenleaf Whittier, yang bunyinya kira-kira begini : “ Dari semua kata-kata sedih yang biasa diucapkan dan dituliskan, yang paling sedih adalah ini : MESTINYA DULU BEGITU”.

Menyesali diri merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk manusia, tetapi bagi kita yang belum menyesali diri, janganlah sampai perkataan di atas harus kita ucapkan pada saat kita menuai kegagalan hidup ini.

Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan ? agar kita tidak perlu menyesal di kemudian hari ? jawabannya adalah mulailah SEKARANG, kejar impian dan cita-citamu, bila tidak pasti penyesalan yang akan mucul. Akibatnya, anda akan mengatakan ‘mestinya dulu begitu’ sehingga saya tidak perlu seperti ini sekarang.

Semua ini, tak terlepas dari WAKTU. Bila mau dibagi, maka waktu dapat dikategorikan ke dalam 3 bagian, yaitu waktu yang sudah lewat (past), waktu sekarang (present) dan waktu yang akan datang (future).

Waktu yang sudah lewat atau masa lalu, hanyalah cerminan bagi kita dalam menyongsong hari esok yang lebih baik dengan memanfaatkan pengalaman dari masa lalu, baik pengalaman yang sukses maupun yang belum berhasil. Sehingga kita dapat lebih bijaksana dalam berkarya. Seringkali, kita terjebak dengan masa lalu (terperangkap dengan kejadian masa lalu), kita sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk keluar dari masa lalu kita. Kita seakan-akan dinina-bobokan. Seringkali dalam komunikasi, yang kita dengar adalah nostalgia masa lalu yang penuh kesuksesan dan mengeluhkan keadaan yang ada saat ini. Bukannya tidak boleh kita mengenang masa lalu, justru masa lalu harus menjadi cerminan kita dalam berkarya, kita jangan hidup dimasa lalu, hiduplah untuk sekarang, persiapkan kehidupan masa depan (Future) yang lebih baik lagi.

Sementara, waktu yang akan datang (future), belumlah ada nilainya, karena apa yang bisa kita perbuat untuk waktu yang belum kita miliki ? apa yang bisa kita lakukan untuk waktu besok hari ? Saya pikir, TIDAK ADA. Sehingga

Yang terakhir adalah waktu SEKARANG, apapun yang ingin diperoleh di masa akan datang, masa depan yang lebih baik harus ditentukan sekarang. Bukan waktu lain…tapi SEKANRANG. Bila kita memaksimalkan 4 kecerdasan yang dikaruniakan Tuhan pada kita dari sekarang, maka saya yakin penyesalan tidak akan pernah menghampiri hidup kita.

By,

Hendra Sugianto

Selasa, 27 Mei 2008

Delegasi merupakan alat management

Siapa yang tidak kenal Musa ?!, satu sosok pemimpin luar biasa pilihan Tuhan. Dialah yang membebaskan bangsa Isreal dari perbudakan Firaun-Mesir. Meskipun demikian, Musa tetap mendelagasikan pekerjaanya ke bawahannya sesuai pada porsi masing-masing dan ini merupakan system management yang baik dan sudah dilakukan olehnya 3.500 tahun yang lalu.

Mengapa di antara kita ada yang sangat sulit untuk mendelegasikan sebagian dari pekerjaan kita kebawahan yang siap membantu setiap saat ? apakah karena kita tidak tahu cara untuk mendelegasikannya ? atau karena kita takut kehilangan pekerjaan yang kita sukai ? atau karena biar kelihatan sibuk dan penting ? jawabannya ada pada diri kita masing-masing…ia tersusun rapi di dalam sanubari kita.

Berikut ini merupakan kisah yang dikutip dari Kitab Keluaran (18:13-26), mengisahkan bagaimana pendelegasian dilakukan.

13Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.

14Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?"

15Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah.

16Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah."

17Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

18Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

19Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

20Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

21Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

22Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

23Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

24Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.

25Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

26Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri.

Inti dari kisah tersebut adalah bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak mengurusi perkara-perkara (hal-hal) kecil, hal-hal seperti ini cukup dikerjakan oleh bawahannya saja. Agar hal ini bisa berjalan dengan semestinya, maka proses pendelegasian dan pembimbingan harus dilakukan dengan bijaksana.

Seringkali dijumpai, pimpinan harus bekerja hingga larut malam (overtime), dengan berbagai macam alasan mulai dari permintaan data yang mendadak hingga kompetensi bawahan yang kurang.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah itu termasuk tipe pimpinan yang baik (“banyak bekerja”) atau justru sebaliknya, malahan merupakan tipe pimpinan yang tidak efisien karena tidak sanggup mendelegasikan pekerjaannya kebawahan ??.. karena membutuhkan pembimbingan !!..

Bila ingin berhasil dengan baik dan memiliki waktu yang cukup baik untuk pribadi maupun keluarga (sehingga ada waktu untuk mengasah gergaji, salah satu habit dari 7 habits), maka delegasikan sebanyak mungkin pekerjaan anda sebagai pimpinan ke bawahan.

Salam Sukses…Luar Biasa…

Hendra Sugianto

Selasa, 13 Mei 2008

MENGAPA PINDAH...KERJA

Beberapa waktu yang lalu saya dikirimi email oleh teman saya, Pak Joni MS, yang menyampaikan pesan Mengapa seseorang begitu mudah untuk pindah kerja.

Untuk saat ini, perkebunan mungkin merupakan sektor yang mobilisasi tenaga kerjanya sangat tinggi. Dengan pembukaan lahan secara besar-besaran, maka akan terbuka kesempatan berkarier yang sangat luar biasa.

Berikut ini adalah email yang dikirimkan oleh Pak Joni, saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita semua untuk mengetahui Mengapa seseorang pindah kerja.

From: Jonni Marjuang Simbolon [mailto:jonni.ms@gmail.com]
Sent: 07 Mei 2008 15:30
To: Baskara Liga; Pakloh; Hendra Sugianto; aris jambi
Subject: Mengapa Pindah ?

MENGAPA PINDAH
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, 'Bill Gates' dari India (terbitan Mizania 2007).

Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.

Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.

Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?

Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.

Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.

Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. 'Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru', katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.

Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.

Penemuannya adalah sebagai berikut:

Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka.
Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.

Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh
orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan.
Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam.
Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.

Demikian pesan Azim Premji.

Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?

Bagaiman Agar Bisa Berhasil

Ada beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk mencapai suatu keberhasilan. Keberhasilan mungkin bagi sebagian orang masih menjadi hak orang tertentu. Seakan-akan bahwa kita dilahirkan dengan takaran yang sudah ditentukan, padahal dari pengalaman hidup saya, takaran kita yang dibekali oleh sang pencipta tidaklah terbatas. Tergantung pada kita untuk mengisinya. Yang paling mempengaruhi pribadi kita dalam menggapai keberhasilan/sukses adalah mindset kita, dengan mindset yang benar maka kita dapat menyikapi semua hal yang terjadi pada kita secara bijaksana.

Saya sangat terinspirasi sama penyanyi Buta, Firsa (peserta mamamia yang ditayangkan di Indosiar) yang berhasil mencapai juara 3. Padahal ia harus bersaing dengan peserta lain yang normal (Fisik), namun mentalnya terlihat jauh lebih kuat. Seandainya saja, kalau mindset yang dimilikinya jelek, bukankah ia akan menggunakan kelemahannya (buta) sebagai alasan untuk tidak berusaha ?... Namun ternyata ia tidak melakukannya. Ia melangkah seperti orang normal. Jadi fokus yang sangat terlihat dalam keberhasilan adalah sikap mental seseorang.

Ada beberapa tips yang dapat dipakai untuk mencapai suatu keberhasilan antara lain :

01. Rencanakanlah pekerjaan anda, sementara orang lain masih belum memulainya.
02. Belajarlah, ketika yang lain tidur.
03. Ambillah keputusan, sementara yang lain masih menundanya.
04. Persiapkanlah segala sesuatunya, pada saat yang lain masih membayangkannya.
05. Mulailah mengerjakan yang sudah direncanakan, meskipun yang lain masih menundanya.
06. Bekerjalah pada saat yang lain masih mengharapkannya.
07. Tabunglah hasil keringat anda, pada saat yang lain menghamburkannya.
08. Dengarkanlah, pada saat yang lain berbicara.
09. Tersenyumlah, pada saat yang lain cemberut.
10. Tetaplah berusaha, sementara yang lain berhenti.


Terlihat sangat jelas, antara mindset orang yang mau berhasil dengan mindset orang-orang yang bakal gagal.