Rabu, 25 Juni 2008

Bagaimanakah Organisasi Yang Baik

?...

By, Hendra Sugianto

Sudahkah kita mengenal dengan baik 4 kecerdasan yang dikaruniahi oleh Tuhan kepada kita ? Sudahkah kita kelola secara baik atas 4 kecerdasan tersebut ?

Jawabannya tentu berbagai ragam, mungkin ada yang sudah mengenalnya dengan baik, tetapi belum dikelola secara maksimal. Atau mungkin juga ada yang belum mengenalnya, sehingga tidak dapat mengelolanya secara maksimal.

4 kecerdasan yang saya maksud adalah 1. kecerdasarn fisik (PQ), 2. kecerdasan mental (IQ), 3. kecerdasan emosional (EQ) dan 4. kecerdasan spiritual (SQ).

PQ (Physical Quotient) merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita, berbagai aktifitas dalam tubuh kita berjalan dengan sendirinya tanpa perintah secara sadar dari kita. Antara lain system kerja saraf, peredaran darah dan masih banyak lagi.

IQ (Intelligent Quotient) merupakan kecerdasan kita dalam melakukan analisis, berpikir dan menemukan berbagai hubungan sebab akibat dalam hidup kita.

EQ (Emotional Quotient) merupakan kecerdasan emosional kita dalam mengenai diri kita, kepekaan sosial dan nilai empati diri kita.

SQ (Spiritual Quotient) merupakan kecerdasaran spiritual, SQ merupakan pusat dan pembimbing dari PQ, IQ dan EQ. Seperti ada tertulis dalam Amsal 20:27 bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.

Bayangkan !!! bila 4 kecerdasan yang dikaruniahi oleh Tuhan dikelola secara maksimal bukankah akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa ?... Bukankah itu merupakan bagian-bagian yang diperlukan dalam suatu management yang luar biasa ?...

Bagaimana dengan suatu organisasi ?... Pada prinsipnya, 4 kecerdasan tersebut juga mutlak diperlukan dalam suatu organisasi, apapun bentuk organisasinya. Penjabarannya adalah sebagai berikut !.

PQ merupakan system yang mutlak diperlukan dalam suatu organisasi, bayangkanlah bagaimana organisasi bisa berjalan dengan baik kalau suatu organisasi tidak memiliki system ? Bagaimana menerapkan disiplin karyawanya ? bagaimana system pelaporannya ? tentu akan menghadapi berbagai persoalan yang rumit, kalau perusahaan tidak memiliki system.

IQ merupakan kompas organisasi, bagaimana suatu organisasi bila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki visi yang jelas ? kemana arah organisasi akan dibawah ? bagaimana teamworknya akan terbentuk apabila tidak adanya visi yang jelas ? tentu efisiensi dan efektivitas kerja tidak akan tercapai dengan tidak adanya visi ini.

EQ merupakan semangat kerja, organisasi yang memiliki kegairahan yang tinggi sudah pasti akan menghasilkan produk-produk yang efisien, karena dengan semangat/kegairahan ini produktivitas akan meningkat. Namun sebaliknya, pernahkah kita melihat produktivitas yang tinggi dari orang/perusahaan yang memiliki motivasi/gairah kerja rendah ?? sepertinya kita hanya menulis di atas air, sesuatu yang tak mungkin.

SQ bagaimanakah integritas suatu organisasi apabila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki moral ? apakah orang seperti ini akan memiliki integritas yang baik ? bagaimana reaksi karyawan apabila dipimpin oleh orang yang tidak memiliki nurani, tetapi hanya ego yang berbicara ? jawaban sudah jelas, bahwa tanpa integritas, maka organisasi tidak akan dapat berproduktivitas secara maksimal.

Seandainya !!.. kita semua mau bercermin dan melihat diri kita sebagai manusia yang utuh, maka kita sudah melihat bagian-bagian yang diperlukan dalam suatu organisasi/perusahaan.

Apakah mata akan berkata kepada kaki bahwa dirinya yang paling penting ? atau jantung akan berkata kepada hati bahwa dirinya yang paling hebat ? tentu tidak. Karena bagian-bagian tubuh kita saling melengkapi, sehingga tercipta suatu sinergisitas yang luar biasa.

Kapankah Waktu Yang Tepat ?...

Mengutip kata-kata tajam yang diucapkan oleh John Greenleaf Whittier, yang bunyinya kira-kira begini : “ Dari semua kata-kata sedih yang biasa diucapkan dan dituliskan, yang paling sedih adalah ini : MESTINYA DULU BEGITU”.

Menyesali diri merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk manusia, tetapi bagi kita yang belum menyesali diri, janganlah sampai perkataan di atas harus kita ucapkan pada saat kita menuai kegagalan hidup ini.

Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan ? agar kita tidak perlu menyesal di kemudian hari ? jawabannya adalah mulailah SEKARANG, kejar impian dan cita-citamu, bila tidak pasti penyesalan yang akan mucul. Akibatnya, anda akan mengatakan ‘mestinya dulu begitu’ sehingga saya tidak perlu seperti ini sekarang.

Semua ini, tak terlepas dari WAKTU. Bila mau dibagi, maka waktu dapat dikategorikan ke dalam 3 bagian, yaitu waktu yang sudah lewat (past), waktu sekarang (present) dan waktu yang akan datang (future).

Waktu yang sudah lewat atau masa lalu, hanyalah cerminan bagi kita dalam menyongsong hari esok yang lebih baik dengan memanfaatkan pengalaman dari masa lalu, baik pengalaman yang sukses maupun yang belum berhasil. Sehingga kita dapat lebih bijaksana dalam berkarya. Seringkali, kita terjebak dengan masa lalu (terperangkap dengan kejadian masa lalu), kita sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk keluar dari masa lalu kita. Kita seakan-akan dinina-bobokan. Seringkali dalam komunikasi, yang kita dengar adalah nostalgia masa lalu yang penuh kesuksesan dan mengeluhkan keadaan yang ada saat ini. Bukannya tidak boleh kita mengenang masa lalu, justru masa lalu harus menjadi cerminan kita dalam berkarya, kita jangan hidup dimasa lalu, hiduplah untuk sekarang, persiapkan kehidupan masa depan (Future) yang lebih baik lagi.

Sementara, waktu yang akan datang (future), belumlah ada nilainya, karena apa yang bisa kita perbuat untuk waktu yang belum kita miliki ? apa yang bisa kita lakukan untuk waktu besok hari ? Saya pikir, TIDAK ADA. Sehingga

Yang terakhir adalah waktu SEKARANG, apapun yang ingin diperoleh di masa akan datang, masa depan yang lebih baik harus ditentukan sekarang. Bukan waktu lain…tapi SEKANRANG. Bila kita memaksimalkan 4 kecerdasan yang dikaruniakan Tuhan pada kita dari sekarang, maka saya yakin penyesalan tidak akan pernah menghampiri hidup kita.

By,

Hendra Sugianto