Senin, 16 November 2009

Pengambilan Sample Daun_tanaman kelapa sawit

Dalam pembuatan rekomendasi pemupukan, hasil analisis kandungan unsur hara di daun merupakan salah satu pertimbangan yang sangat menentukan. Faktor yang mempengaruhi keakuratan analisis kandungan hara daun di laboratorium sangat ditentukan oleh proses pengambilannya di lapangan. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pengambilan daun di lapangan antara lain :

1. Jenis tanah

Jenis tanah yang berbeda harus dipisahkan dalam penentuan kesatuan contoh daun (LSU=leaf sampling unit). Karena kandungan hara untuk jenis tanah yang berbeda akan berbeda, sehingga akan memberikan interpretasi yang keliru oleh rekomendator apabila digabungkan.

2. Umur tanaman

Umur tanaman yang berbeda, seharusnya dalam proses penentuan LSUnya juga harus dipisah. Karena umur tanaman yang berbeda, akan memiliki kandungan (criteria) status unsur hara daun yang berbeda pula.

3. Topografi

Antara topografi yang datar dan bergelombang harus dipisahkan dalam penentuan LSU. Hal ini untuk memberikan suatu gambaran status hara yang ada di lapangan yang lebih akurat. Sehingga rekomendator dapat menentukan rekomendasi pupuk yang lebih akurat.

4. Luasan

Pada umumnya, luas yang kesatuan contoh daun adalah 1 blok (25 ha), yang merupakan satu kesatuan terkecil dalam rekomendasi pemupukan.

5. Kultur teknis

Penentuan LSU juga harus memperhatikan kultur teknis. Untuk pola tanam yang berbeda, maka sample daunnya juga harus dibedakan.

6. Metode pengambilan

6.1. Titik sample

Tanaman kelapa sawit yang dijadikan sample harus memenuhi syarat-syarat berikut ini :
1. Tanaman sehat (bebas dari penyakit)
2. Bukan sisipan
3. Tidak terletak di sebelah tanaman kosong
4. Tidak terletak di tepi bangunan
5. Tidak terletak di tepi parit/jalan

Titik sample pertama dimulai pada baris ke 3 dan pokok ke 3, untuk titik selanjutnya merupakan penambahan 10 pokok dan 10 baris ke samping.

Untuk mendapatkan keseragaman, lebih baik dimulai dari 1 titik (barat daya). Hal ini bertujuan untuk mempermudah cross-check di lapangan.

6.2. Waktu

Waktu pengambilan sample daun adalah dari jam mulai kerja (pagi) hingga jam 12 siang. Apabila terjadi hujan lebat, maka pengambilan sample daun harus dihentikan.


6.3. Pelepah ke #17

Pelepah yang dijadikan sample adalah pelepah ke 17. Pelepah ke 17 merupakan pelepah yang terletak pada spiral yang sama dengan pelepah #1 (pelepah #1 adalah pelapah termuda yang telah membuka sempurna). Posisi pelepah #17 terletak berlawan dengan posisi spiral, apabila spiral tanaman kelapa sawit ke kanan, maka posisinya sedikit agak ke kiri dan sebaliknya.

6.4. Helaian daun sample

Anak daun yang dijadikan sample adalah anak daun yang terletak 3/5 dari pangkal pelepah atau 2/5 dari ujung pelepah. Anak daun diambil dari 2 sisi, dan lebih baik genap (4 kiri dan 4 kanan). Selanjutnya, 1/3 bagian tengah diambil untuk dijadikan sample daun.

6.5. Pengelapan sample daun

Sample daun yang sudah diambil (1/3 bagian tengah) dilap bersih dengan aquadest dengan menggunakan kain yang bersih. Setelah di lap, midrib/lidi sample tersebut dibuang. Selanjutnya, helaian daun tersebut dipotong-potong dengan ukuran 1 cm.

6.6. Pengeringan

Sample daun yang sudah dipotong, dikering di dalam oven dengan suhu 70 ⁰C selama 20-24 jam atau sudah bisa diremas seperti kerupuk.

6.7. Persiapan sample daun

Sample daun yang sudah kering dimasukan ke dalam plastic dan diberi label sebagai berikut :

PT :
Kebun :
Divisi :
Tahun Tanam :
Blok :
Luas :
Tanggal Pengambilan :
Analisis :
Team Pengambil :

Permasalahan Lahan Pasir-untuk pengembangan tanaman kelapa sawit

Karena keterbatasan lahan yang bagus, maka lahan pasirpun sudah dilirik untuk ekspansi tanaman kelapa sawit. Faktor-faktor yang dijumpai di area pasir dalam pembudidayaan tanaman kelapa sawit adalah :
1. Kandungan unsur hara yang rendah
2. Koloidal tanah yang rendah
3. Pencucian unsur hara yang tinggi
4. Tingkat erodibilitas yang tinggi
5. Produktivitas lahan (ekonomiskah ?)

1. Kandungan unsur hara

Hampir semua unsur hara, baik makro-primer, makro-skunder maupun mikro sangat rendah kandungannya di tanah pasir. Sehingga, tanaman akan mengalami defisiensi berat bila dibudidayakan di area pasir. Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang baik dibutuhkan input yang sangat tinggi/mahal, baik dari pupuk (kuantitas) dan bahan organic ataupun soil conditioner lainnya.

Solusi :

Pemupukan yang berimbang baik dari segi kuantitas maupun jenis pupuk yang cocok untuk area berpasir. CRF, merupakan salah satu pilihan yang dapat dipergunakan apabila penggunaan soil conditioner tidak efisien.

2. Koloidal tanah

Fraksi tanah yang memiliki sifat koloidal adalah fraksi liat. Pasir, yang memiliki ukuran kasar, memiliki koloidal yang sangat rendah. Dengan nilai koloidal yang sangat rendah ini, maka tanah pasir memiliki kemampuannya untuk mempertukarkan kation/anion yang sangatlah rendah pula. Dengan kondisi seperti ini, pencucian unsur hara akan sangat tinggi. Pupuk yang diberikan, sebagian besar akan hilang tercuci setelah terurai menjadi ion-ion sebelum diserap akar tanaman.

Solusi :

Pemupukan dengan frekwensi tinggi dengan dosis rendah, akan mengurangi proses pencucian serta penggunaan jenis pupuk yang tepat dan penggunaan soil conditioner.

3. Pencucian Unsur hara

Seperti yang sudah disampaikan di point 2. Tanah pasir memiliki potensi pencucian unsur hara yang sangat tinggi karena kemampuannya dalam mengikat unsur hara (ion-ion) sangat rendah karena kandungan koloidalnya yang rendah. Dengan pencucian unsur hara yang tinggi ini, akan menyebabkan rendahnya efisiensi pemupukan.

Solusi :

Karena kemampuannya dalam mengikat unsur hara sangat rendah, (< 10 meq/100 gr tanah), maka untuk menghindari kehilangan unsur hara akibat pencucian, maka dosis pemupukan cukup rendah saja, namun frekwensinya yang harus ditingkatkan. Untuk musim hujan, sebaiknya pemupukan tidak dilakukan.

4. Erodibilitas

Tingkat tererosinya tanah pasir sangatlah tinggi, karena tidak adanya agregasi yang baik pada fraksi pasir. Dengan kondisi seperti ini, aplikasi pemupukan di permukaan akan sangat rendah efisiensinya bila dilakukan pada saat hujan.

Solusi :

Pengikisan top soil harus dihindari pada saat pembukaan lahan, karena dengan terganggunya lapisan atas, akan menyebabkan aliran permukaan semakin mudah membawa partikel-partikel pasir.

5. Produktivitas lahan

Produksitivitas lahan pasir sudah pasti jauh lebih rendah dibandingkan dengan lahan mineral. Dengan segala macam keterbatasan dan input yang tinggi pada lahan pasir, ada satu pertanyaan yang perlu diajukan, apakah masih ekonomis untuk dikembangkan tanaman kelapa sawit ? Memang kajian secara seksama hingga saat ini masih belum dilakukan, namun potensi produksi dan input yang tinggi, sudah tentu akan sangat meminimkan efisiensi pendapatan di lahan pasir.


Hendra Sugianto